Tuesday, 20 January 2015

Review Film: Di Balik 98

Tragedi Mei 1998 yang terjadi di Indonesia adalah salah satu sejarah yang sangat ingin saya ketahui secara mendalam. Sampai hari ini, sejarah tersebut masih cukup abu-abu. Penculikkan aktivis, penjarahan secara besar-besaran, pembunuhan mahasiswa oleh angkatan bersenjata, dan kekerasan terhadap kaum etnis Tiongkok adalah sedikit hal yang saya ketahui mengenai peristiwa '98. Ketika saya mengetahui akan ada film yang mengambil latar belakang peristiwa tersebut membuat saya penasaran dan menunggu film tersebut untuk ditonton, belum lagi aktris pemeran utama-nya cukup sering terdengar namanya belakangan ini, Chelsea Islan. Dia ditemani oleh Boy William sebagai aktor utamanya.

Film yang diproduksi oleh MNC Picture dan disutradarai oleh aktor terkenal Lukman Sardi ini pertama kali tayang tanggal 15 Januari 2015, saya berkesempatan menontonnya baru kemarin, tanggal 19 Januari 2015 ketika mendapat jatah libur kantor. Kesalahan terbesar saya adalah, saya tertinggal 10 menit awal film tersebut karena telat bangun akibat kelelahan dinas malam, dan bensin motor yang habis yang membuat waktu saya kembali terpotong untuk mampir di SPBU.

Ketika saya masuk, layar sudah sampai pada pembicaraan antara Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William) sebagai sepasang kekasih yang berjanji untuk saling menjaga (sepenangkapan saya-maklum sambil mencari tempat duduk).

Secara keseluruhan, film ini hanya menampakkan fakta-fakta umum yang terjadi saat Mei '98 yang sedikit banyak sudah saya ketahui. Konflik antara Diana dengan kakak-kakaknya kurang mengena menurut saya, karena seolah-olah Diana hanya ingin berdemo untuk kakaknya Salma (Ririn Ekawati) agar kakak iparnya Letnan Dua Bagus (Donny Alamsyah), seorang TNI-AD yang taat lebih memperhatikan istrinya yang sedang hamil besar, Diana saat demo di depan kakaknya yang kebetulan menjadi pagar betis sungguh berapi-api dan sangat terlihat marah, dan setelah selesai berdemo meminta maaf pada kakaknya dan mengajak makan siang bersama setelah kakaknya tersebut mengaku salah kurang memperhatikan keluarga (padahal posisinya serba sulit). Menurut saya, konflik yang dialami Diana tidak terlalu menarik, karena sisi dia sebagai mahasiswa yang menuntup reformasi kurang ditunjukkan dalam cerita.

Konflik yang dialami oleh Bagus malah menurut saya jauh lebih dalam, akting Donny Alamsyah yang dalam posisi serba sulit pun dimainkan dengan sangat baik olehnya. Posisi-nya sebagai seorang tentara dan suami dari istri yang hamil besar memunculkan konflik batin yang menarik untuk dinikmati.

Lain lagi dengan Daniel, pemuda ber-etnis Tiongkok yang seperti kita tahu mengalami perbuatan yang sangat tidak menyenangkan dari warga Indonesia saat itu. Namun, sangat disayangkan hal tersebut kurang divisualkan dan diceritakan lebih mendetail. Padahal, yang mereka alami, jelas lebih menyeramkan dari yang ditayangkan di film tersebut. Bagaimana pun, cerita mengenai saudara-saudara etnis Tiongkok saat '98 selalu membuat hati saya teriris dan pilu. Hampir menitikkan air mata saya ketika menangkap pesan perdamaian dari film tersebut, yaitu ketika ayah dan adik Daniel ditolong dan diselamatkan oleh umat-umat Muslim dan ditampung sementara di Mesjid, dan Salma ketika pingsan ditolong oleh ibu-ibu beretnis Tiongkok. Orang-orang baik masih selalu ada dan tidak semuanya tertutup mata hatinya.

Ada juga terselip konflik yang dialami oleh rakyat kecil, yang diperankan oleh Teuku Rifnu dengan cukup apik dengan seorang anak kecil meski masalahnya kurang jelas dan tidak tertangkap oleh saya.

Secara keseluruhan, menurut saya, cerita film ini serba tanggung, andai saja hanya menceritakan dua konflik namun lebih mendetail mungkin akan jauh lebih menarik. Visual yang dipertontonkan cukup baik dan menunjukkan bahwa film ini digarap dengan serius. Film ini, yang saya tangkap, seolah-olah ingin menceritakan secara umum apa yang terjadi pada Mei '98 pada generasi sekarang atau siapapun yang mungkin tidak tahu sama sekali bagaimana 'reformasi' terwujud. Film ini juga cukup tertolong dengan pemainnya yang bermain cukup apik. Kredit saya tersendiri untuk pemeran Soeharto yang amat mirip, Bapak Amoro Katamsi. Bagus banget, Pak!

Film ini saya rate 6.8/10, untuk tetap #supportFilmIndonesia, tontonlah film ini. Yang belum tahu kisah Mei '98 akan sedikit banyak tahu, yang sudah tahu dapat mengenang kembali kisah ini sebagai sejarah yang tidak boleh dihapuskan dari Bangsa Indonesia, atau sekedar hanya ingin memercik semangat Nasionalisme. Siapa tahu, film-film seperti ini dapat muncul kembali.



Salam,
DTM ^^, 



PS:

Di film ini, terselip tawa saya saat mengetahui yang menjadi SB. Yudhoyono adalah Pandji Pragiwaksono, ekspresinya tak pernah tak membuat gelak tawa, belum lagi mengingat celetukan-celetukannya mengenai SBY.

No comments:

Post a Comment