Thursday, 31 December 2015

(Nggak) Ngesest-(ngenest) Amet

Sebelum tahun berganti saya merencanakan untuk nonton film di bioskop, hitung-hitung mengisi kegiatan yang kosong karena cuti kerja. Awalnya Ngenest tidak masuk ke dalam list saya karena toh saya sudah melahap habis bukunya sampai saya lihat potongan artikel yang di-post oleh kak Ernest.

Kemudian membaca reaksi orang-orang yang menonton premier film tersebut di Twitter semakin menggoyahkan kepercayaan saya dan memutuskan untuk memilih Ngenest sebagai film terakhir yang saya tonton di akhir tahun 2015.

Saya sengaja datang dua jam sebelum Ngenest dimulai karena ingin menyaksikan Negeri van Oranje terlebih dahulu, cukup terkejut saya kursi yg tersisa tinggal dua baris di depan dan satu kursi kosong di row E yang saya bayar sebagai tempat duduk saya.

Ekspetasi saya tidaklah terlalu tinggi, saya anggap pasti lucu. Cuma mungkin saya hanya senyum-senyum saja.
Ternyata
Saya
Salah
.
.
.
.
.
Ngenest. Lucu. Banget. Banget.
Saya jarang ketawa ngakak-ngakak di bioskop kalau nonton sendirian karena malu walau gelap. Tapi nonton Ngenest membuat saya bodo amet. Ketawa aja gitu kenceng-kenceng kayak nonton stand up langsung.

Awalnya emang terasa agak terpaksa dan kaku, entah dialognya atau karena namanya-juga-masih-anak-anak. Tapi menjelang remaja hingga akhir cerita, mengalir sekali, jokesnya rapat dan padat, yang rasanya kalau diceritain di sini bakalan spoiler. Peletakkan sponsor biskuit juga haluuuus banget ga maksa. Ernest gak egois dengan memakan jokes sendiri tapi dibagi di semua tempat secara merata. Komika-komika yg dipilih buat nambahin tawa juga rasanya pas, ngga berlebihan, tetap utuh pada cerita dan muncul di waktu yang tepat, khususnya Awwe, Adjis, Acho, Lolox dan Ge. Kayak mereka belum ngomong aja udah ngakak bayangin apa yg bakal mereka lakuin.

Duh, pokoknya Ngenest ini menghibur sekali. Saya sampai gak mikirin sama sekali pesan moral apalah tapi tetap pulang bawa sesuatu. Sayang sekali kalau sampai melewatkan karya Ernest yang satu ini. Tontonlah sebagai hiburan mengakhiri atau mengawali tahun.


Terima kasih banyak kak Ernest sudah buat film sebagus ini sebagai salah satu penutup tahun yang manis. Ditunggu karya-karya selanjutnya.




Salam,
Debora Truly-yang berencana daftar les bahasa Mandarin :>

Thursday, 18 June 2015

Teruntuk: Pandji Pragiwaksono



Berkesempatan untuk melanjutkan kuliah di Jakarta tentu tak saya sia-siakan untuk sekaligus melihat lebih dekat banyak hal yang awalnya hanya dapat saya nikmati di televisi, buku, maupun internet. Salah satunya adalah menyaksikan langsung acara kegemaran saya Stand Up Comedy. Di salah satu acara tersebutlah saya pertama kali bertemu dengan Pandji.

Pandji Pragiwaksono, yang awalnya saya ketahui sebagai pembawa acara program televisi yang suka memberi pertanyaan di jalanan dan menghadiakan uang untuk setiap jawaban yang benar, menjadi sosok yang saya kagumi dan ikuti karya-karyanya semenjak saya follow akun twitter-nya lima tahun yang lalu. Dari semua karya-karya-nya, tulisan dan lawakannya lah yang paling saya minati. Saya mudah sekali terpengaruh melalui tulisan yang menarik dan obrolan yang hangat. Maafkan, tapi setiap melihat Pandji melakukan Stand Up saya seperti sedang mendengar orang ngobrol tapi tanpa ada yang menimpali.


Ini adalah foto saya pertama kali dengan Pandji:
Mas Pandji masih gemuk :'>

Saat itu sudah larut sekali, pukul 12 malam lebih, Pandji menjadi pembawa acara di Kontes Stand Up Comedy Kompas TV Season 3. Ketika acara usai, saya menunggu di luar berharap Pandji belum pulang dan berkenan meluangkan sedikit waktunya untuk berfoto dengan saya. Malam itu saya beruntung, dia belum pulang dan dengan sangat ramah mengabulkan permintaan saya. Tak ada sedikit pun gesture kelelahan waktu itu, padahal acara yang dipandunya cukup lama, dan dia bersama Ge-partner MC-nya pada saat itu-tak henti-hentinya turut menghibur penonton yang datang saat acara berlangsung. Ketika selesai berfoto bahkan beliau mengucapkan terima kasih. Wuuuh, sebentar namun betapa berkesannya malam itu :”)


Ini adalah foto kedua saya dengan Pandji:
 
Mas Pandji mengecil :o

 PP Stand Up Vol. 3. Acara yang memang ingin sekali saya hadiri, karena mendengar kabar bahwa acara tesebut adalah stand up yang cukup ‘berbahaya’. Waktu itu tanggal 1 April 2014 di Graha Bakti Budaya. Sebelum berangkat, saya sempatkan melihat timeline Twitter dan mengetahui Pandji juga turut hadir. Saya langsung memasukkan buku karya Pandji yang belum ditandatanganinya ke dalam tas. Ketika acara usai, banyak orang yang berkumpul di lobi bawah gedung tersebut. Banyak sekali wajah-wajah yang familiar, karena memang acara stand up milik Provocative Proactive cukup ditunggu-tunggu. Akhirnya saya dapat menemui Pandji di dekat pintu keluar, bersama Queen Gamila, dan langsung meminta beliau menandatangani buku saya. Pandji menanyakan nama saya, lalu menulis nama saya di buku. Sambil menulis beliau sempat bertanya apa arti dari nama saya, karena sama dengan nama bus jurusan Lebak Bulus-Depok :”””D

Sudah dilegalisir
 Setelah selesai, Pandji lagi-lagi tak lupa mengucapkan terima kasih. Saya sangat merasa dihargai.

Dari setiap pertemuan saya dengan Pandji, ucapannya yang mengatakan bahwa beliau sangat menghargai penikmat karyanya betul adanya. Dia tak segan-segan mengucapkan langsung terima kasih, walau saya hanya sekadar meminta foto. Melalui tulisan ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih pada Pandji. Terima kasih untuk setiap karya, tulisan, ucapan, video, bahkan tweets dari mas Pandji. Tak semua saya setuju, tapi setidaknya mengajak saya untuk lebih berpikir, melihat dari sisi lain dan mengenal sebelum membenci. Terima kasih, mas Pandji.

Saya mem-favorite-kan tweet Mas Pandji ini dua tahun lalu karena saya pun ingin demikian, dan saya capture baru-baru ini:


Semoga tahun ini dapat terwujud, atau tahun-tahun ke depan.

Selamat ulang tahun, mas Pandji, usia semakin bertambah, waktu pun menipis, tetaplah berbahagia.



Salam.
Debora Truly
-bukan pengusaha bus-



Friday, 27 February 2015

SIdang Tilang di Pengadilan Negeri Batam

Tanggal 23 Januari 2015, hari Jum'at adalah salah satu hari yang akan cukup saya ingat dalam hidup saya (oke, ini lebay banget sebagai pengantar-maafkan) karena pada waktu tersebut untuk pertama kalinya saya ditilang polisi.

.
.
.
Waktu itu kira-kira pukul 16.00 WIB, saya mengendarai sepeda motor dan membonceng teman saya menuju ke kantor di Bandara Hang Nadim serta tidak memakai helm. Tidak ada alasan untuk pembenaran dalam pelanggaran peraturan, kami jelas dalam posisi yang salah dan patut untuk ditilang ketika Polisi yang biasanya tidak ada di perempatan lampu merah menuju Bandara sedang berjaga-jaga saat itu memberhentikan kami. Meski tetap berusaha untuk meminta pengampunan, sang Polisi tak bergeming dan memberikan slip merah kepada saya untuk mengambil STNK yang ditahan di pengadilan Negeri Batam di wilayah Batam Center. Saya dijadwalkan untuk melakukan sidang tanggal 27 Februari 2015-tepat saat blog post ini diterbitkan.


Sebelum melakukan sidang hari ini, saya meminta senior di kantor untuk menemani saya saat sidang, karena saya takut dan tidak pernah mengalami namanya persidangan dan beliau menyanggupinya (Terimakasih, mas Riko ^^), selain itu saya juga membaca beberapa pengalaman-pengalaman mengenai sidang tilang di internet sekadar untuk tahu bagaimana suasana sidang dan apa yang harus saya persiapkan dan saya lakukan agar tidak-malu-maluinTM. Beberapa hari sebelum saya ditilang, senior di kantor juga ada yang baru melakukan sidang tilang, saya juga sempat bertanya-tanya dengan beliau mengenai proses sidang tersebut.


Pukul 08.30 WIB saya sampai di Pengadilan Negeri Batam, sudah cukup banyak orang yang datang dan menunggu untuk melakukan proses sidang, tidak seperti yang saya baca di internet, tidak ada satupun calo yang mendatangi saya untuk membantu menyelesaikan proses sidang, saya cukup terkesan, saya lalu mendatangi tempat-tempat orang banyak berkumpul dan bertanya di mana sidang dilakukan dan mengambil nomor antrian. Rupanya saya cukup menaruh slip merah yang diberikan polisi saat saya ditilang di tumpukan yang telah dibuat oleh orang-orang sebelum saya dan menunggu untuk dipanggil namanya. Pada slip merah tersebut terjadwal saya melakukan sidang pukul 09.00 WIB. Namun, ketika jam saya menunjukkan pukul 09.00 WIB belum ada satupun nama yang dipanggil. Kenapa ya, rasanya susah sekali orang Indonesia untuk patuh terhadap waktu, tipikal sekali. Untung saya terjadwal untuk masuk dinas siang, sehingga jadwal kerja saya tidak terganggu, namun bagaimana dengan yang lain, yang mungkin karena ijin untuk mengikuti sidang ini harus dipotong gajinya :(


Setelah kurang lebih lewat dua puluh menit dari pukul 09.00 WIB, nama-nama ditumpukkan slip merah tersebut mulai dipanggil. Orang-orang langsung berkumpul ke sumber suara yang membuat akses menuju pintu ruang sidang penuh sesak dan kembali memperlambat proses. Kembali tipikal orang Indonesia yang kurang sabaran dan tidak teratur, coba semuanya berdiri atau duduk di tempat yang disediakan, pasti akan jauh lebih cepat dan mudah. Hal lucu yang saya temui saat nama-nama tersebut dipanggil adalah banyaknya yang saling saut-sautan, dan kalau namanya mirip orang terkenal diceng-cengin :"").

Akhirnya dipanggilah nama saya untuk memasuki ruang sidang, di dalam ruang tersebut sudah ada kurang lebih sepuluh orang dan bergantian di panggil oleh hakim-nya.
.
.
.
Dan proses sidang tiap orang hanya berlangsung selama 3 menit....
Ketika nama saya dipanggil oleh Hakim, percakapan sebagai berikut: (H: Hakim; D: saya)
H: Kenapa Mbak sampai ditilang?
D: Ga pake helm, Pak
H: Harga Helm cuma Rp 50.000,- dendanya  Rp 100.000,- ya
D: *senyum* Baik, Pak.

Udah
Gitu
Doang

Saya langsung ke petugas pengadilan bayar denda Rp 100.000,- dan administrasi Rp 1000,- jadi totalnya Rp 101.000,- dan STNK dikembalikan dan saya check apakah itu benar atau tidak dan setelah itu dipersilakan keluar ruang sidang dan sidang selesai.

Rasa puas muncul karena tahu uang yang saya keluarkan benar-benar masuk ke negara dan tidak dikorupsi oleh oknum polisi tertentu dan tentu menjadi pelajaran tersendiri buat saya untuk menaati peraturan dan yang paling terpenting adalah untuk keselamatan saya sendiri.

Buat yang kebetulan baca blog ini, tenang aja proses sidang tilang tidak ribet sama sekali, jadi ga perlu pakai calo dan takut, petugasnya ramah-ramah dan membantu, tapi bukan menjadi alasan untuk melakukan pelanggaran dengan mudah.


Semoga tulisan tidak terlalu penting di atas bisa membantu


Salam
Debora Truly.


PS: Wajah Pak Hakim mirip Pangeran Siahaan :">

Tuesday, 20 January 2015

Review Film: Di Balik 98

Tragedi Mei 1998 yang terjadi di Indonesia adalah salah satu sejarah yang sangat ingin saya ketahui secara mendalam. Sampai hari ini, sejarah tersebut masih cukup abu-abu. Penculikkan aktivis, penjarahan secara besar-besaran, pembunuhan mahasiswa oleh angkatan bersenjata, dan kekerasan terhadap kaum etnis Tiongkok adalah sedikit hal yang saya ketahui mengenai peristiwa '98. Ketika saya mengetahui akan ada film yang mengambil latar belakang peristiwa tersebut membuat saya penasaran dan menunggu film tersebut untuk ditonton, belum lagi aktris pemeran utama-nya cukup sering terdengar namanya belakangan ini, Chelsea Islan. Dia ditemani oleh Boy William sebagai aktor utamanya.

Film yang diproduksi oleh MNC Picture dan disutradarai oleh aktor terkenal Lukman Sardi ini pertama kali tayang tanggal 15 Januari 2015, saya berkesempatan menontonnya baru kemarin, tanggal 19 Januari 2015 ketika mendapat jatah libur kantor. Kesalahan terbesar saya adalah, saya tertinggal 10 menit awal film tersebut karena telat bangun akibat kelelahan dinas malam, dan bensin motor yang habis yang membuat waktu saya kembali terpotong untuk mampir di SPBU.

Ketika saya masuk, layar sudah sampai pada pembicaraan antara Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William) sebagai sepasang kekasih yang berjanji untuk saling menjaga (sepenangkapan saya-maklum sambil mencari tempat duduk).

Secara keseluruhan, film ini hanya menampakkan fakta-fakta umum yang terjadi saat Mei '98 yang sedikit banyak sudah saya ketahui. Konflik antara Diana dengan kakak-kakaknya kurang mengena menurut saya, karena seolah-olah Diana hanya ingin berdemo untuk kakaknya Salma (Ririn Ekawati) agar kakak iparnya Letnan Dua Bagus (Donny Alamsyah), seorang TNI-AD yang taat lebih memperhatikan istrinya yang sedang hamil besar, Diana saat demo di depan kakaknya yang kebetulan menjadi pagar betis sungguh berapi-api dan sangat terlihat marah, dan setelah selesai berdemo meminta maaf pada kakaknya dan mengajak makan siang bersama setelah kakaknya tersebut mengaku salah kurang memperhatikan keluarga (padahal posisinya serba sulit). Menurut saya, konflik yang dialami Diana tidak terlalu menarik, karena sisi dia sebagai mahasiswa yang menuntup reformasi kurang ditunjukkan dalam cerita.

Konflik yang dialami oleh Bagus malah menurut saya jauh lebih dalam, akting Donny Alamsyah yang dalam posisi serba sulit pun dimainkan dengan sangat baik olehnya. Posisi-nya sebagai seorang tentara dan suami dari istri yang hamil besar memunculkan konflik batin yang menarik untuk dinikmati.

Lain lagi dengan Daniel, pemuda ber-etnis Tiongkok yang seperti kita tahu mengalami perbuatan yang sangat tidak menyenangkan dari warga Indonesia saat itu. Namun, sangat disayangkan hal tersebut kurang divisualkan dan diceritakan lebih mendetail. Padahal, yang mereka alami, jelas lebih menyeramkan dari yang ditayangkan di film tersebut. Bagaimana pun, cerita mengenai saudara-saudara etnis Tiongkok saat '98 selalu membuat hati saya teriris dan pilu. Hampir menitikkan air mata saya ketika menangkap pesan perdamaian dari film tersebut, yaitu ketika ayah dan adik Daniel ditolong dan diselamatkan oleh umat-umat Muslim dan ditampung sementara di Mesjid, dan Salma ketika pingsan ditolong oleh ibu-ibu beretnis Tiongkok. Orang-orang baik masih selalu ada dan tidak semuanya tertutup mata hatinya.

Ada juga terselip konflik yang dialami oleh rakyat kecil, yang diperankan oleh Teuku Rifnu dengan cukup apik dengan seorang anak kecil meski masalahnya kurang jelas dan tidak tertangkap oleh saya.

Secara keseluruhan, menurut saya, cerita film ini serba tanggung, andai saja hanya menceritakan dua konflik namun lebih mendetail mungkin akan jauh lebih menarik. Visual yang dipertontonkan cukup baik dan menunjukkan bahwa film ini digarap dengan serius. Film ini, yang saya tangkap, seolah-olah ingin menceritakan secara umum apa yang terjadi pada Mei '98 pada generasi sekarang atau siapapun yang mungkin tidak tahu sama sekali bagaimana 'reformasi' terwujud. Film ini juga cukup tertolong dengan pemainnya yang bermain cukup apik. Kredit saya tersendiri untuk pemeran Soeharto yang amat mirip, Bapak Amoro Katamsi. Bagus banget, Pak!

Film ini saya rate 6.8/10, untuk tetap #supportFilmIndonesia, tontonlah film ini. Yang belum tahu kisah Mei '98 akan sedikit banyak tahu, yang sudah tahu dapat mengenang kembali kisah ini sebagai sejarah yang tidak boleh dihapuskan dari Bangsa Indonesia, atau sekedar hanya ingin memercik semangat Nasionalisme. Siapa tahu, film-film seperti ini dapat muncul kembali.



Salam,
DTM ^^, 



PS:

Di film ini, terselip tawa saya saat mengetahui yang menjadi SB. Yudhoyono adalah Pandji Pragiwaksono, ekspresinya tak pernah tak membuat gelak tawa, belum lagi mengingat celetukan-celetukannya mengenai SBY.