Friday, 19 December 2014

Review: Doraemon: Stand by Me.

Hari Kamis kemarin (18 Desember 2014), setelah terjadi pembatalan sebanyak dua kali karena urusan mendadak yang bikin bete, saya berhasil juga nonton film yang sudah saya tunggu-tunggu kurang lebih 6 bulan terakhir, yaitu Doramon: Stand by Me.

Film ini, dikabar-kabarkan sebagai film terakhir Doraemon yang bakal menguras emosi dan air mata kita sebagai penonton, apalagi buat generasi saya yang dari SD sudah disuguhkan film seriesnya setiap Minggu pagi-dan membuat saya harus buru-buru pulang Sekolah Minggu serta kurang fokus dengar khotbah dari guru Sekolah Minggu :p (maafkan saya bang, kak).

Pada saat premiernya di Jepang, bulan lalu, saya sempat membaca beberapa ulasan dari orang Indonesia yang tinggal di Jepang dan telah menonton film tersebut terlebih dahulu. Kata mereka, film tersebut sungguh sedih, membawa kenangan masa lalu, menyentuh hati dan menghabiskan banyak tisu. Hal tersebut-sedikit banyak- menambah ekspetasi saya terhadap film tersebut.

Saya suka Doraemon, seriesnya setiap Minggu semacam hal wajib yang harus diketahui, film pertama Doramon yang saya tonton adalah yang berhubungan dengan Legenda Raja Matahari, nonton itu saja saya nangis, ditambah lagunya yang turut menyayat hati. Hal tersebut membuat saya berpikir, saya pasti nangis nonton Stand by Me. Saya siapkankah tisu yang cukup banyak.

Ketika film dimulai, suasana bioskop yang agak berisik-karena banyak anak-anak- membuat saya mulai senewen takut tidak dapat menikmati filmnya dengan khusyuk. Betul saja, ada saja orang tua yang berulang kali harus mendiamkan anaknya dan menjawab pertanyaan anaknya mengenai film tersebut dengan suara yg cukup keras -.-

Filmnya, sejujurnya jauh di bawah ekspetasi saya. Isinya bagus, menjelaskan pertama kali Nobita berjumpa dengan Doraemon dan alasan mengapa dia harus jauh-jauh dari abad 22 menjumpai dan menemani Nobita, tetap terselip pesan-pesan moral yang banyak yang tetap mengena di hati saya meski sudah setua ini. Visualnya sangat baik, pun animasi-nya, yang apabila dinikmati dengan fasilitas 3-D akan sangat memuaskan. Kenapa saya merasa kurang terpuaskan adalah karena saya gagal nangis. Hampir nangis, andai saja film ini di-dubing dengan suara berbahasa Indonesia yang saya tonton sejak kecil, bioskop tidak berisik, dan momen ketika Nobita harus berpisah dengan Doraemon, dan masa-masa kesendiriannya lebih diekspos. Menurut saya, ceritnya lebih menonjolkan Nobita yang berjuang mendapatkan Shizuka dan hanya itu seolah-olah sumber kebahagiaan dan kesuksesannya di masa depan. Sungguh sayang, karena soundtrack film Doraemon ini rasanya pas sekali, menyentuh hati dan membuat saya nangis kapan pun saya dipancing..


Bagaimana pun, jika ada kesempatan tetaplah tonton film ini, ingatlah bagaimana waktu kecil kita bela-belain waktu untuk nonton seriesnya. Mungkin setelah nonton ini, Anda akan rindu masa lalu dan kangen sahabat kecil.

Ahh ya, satu lagi, film ini sebaiknya tidak ditonton dulu oleh anak SD, banyak konten yang tidak cocok :)

Salam.
D ^^

Friday, 7 November 2014

Babak Baru

Hai, hai, hai semuanya.. (berasa banyak yang baca)
Hari ini sudah tepat seminggu saya berada di Batam. Perasaannya? Gado-gado. Bukan, bukan kayak rasa gado-gado yang enak (asal ulek kacangnya enak, *apasih), tapi campur aduk kayak sayur di gado-gado yang banyak macamnya ditambah si bumbu kacang. Rasanya lebih banyak ke-nggak percaya udah balik lagi ke sini, sedih ninggalin Pondok Betung kota sejuta kenangan, dan kesel harus memulai drama hidup yang baru lagi. Harus berperan jadi manusia yang beda dari sebelumnya.

Maksud saya berbeda, bukan kita berpura-pura jadi orang lain, atau berganti sifat, tetapi harus bisa menyesuaikan diri kita yang dibentuk oleh lingkungan sebelumnya ke lingkungan yang baru yang sudah barang tentu berbeda adat dan budayanya. Sudah banyak sekali babak dalam drama yang saya mainkan selama 23 tahun usia saya. Dari saya kecil, berpindah-pindah tempat tinggal dan berkembang bukan barang baru, sungguh menyedihkan, kalau sebagian orang seusia saya bisa reuni bertemu dengan teman SD-nya dengan mudah, hal itu bagi saya adalah hal yang sulit. Selain karena banyaknya teman sekolah yang saya punyai, karena dua kali berpindah sekolah yang sebagian besar saya lupa namanya, tempat tinggal mereka juga sudah sangat sulit untuk dijangkau. Saya tidak pernah lupa setiap kali saya harus memperkenalkan diri di depan teman-teman yang baru dan diceritain oleh mereka dengan cara bisik-bisik. (Sumpah, emang kayak sinetron!). Semua babak-babak itu, toh, sudah saya lewati, hingga sekarang mudah-mudahan dapat membawa diri dengan baik.

Namun, meski saya anggap saya mampu masuk ke babak hidup yang baru ini, babak hidup sebelum ini sungguh amat susah untuk dilupakan, begitu banyak pelajaran yang saya peroleh dan terima yang membentuk karakter dan kepribadian saya menjadi lebih mandiri dan kuat lalu sendiri. Apalagi satu tahun terakhir, sungguh banyak ilmu yang saya peroleh soal mengahargai dan membuat bahagia diri sendiri, yang ternyata sungguhlah mudah. Saya lakukan apa pun yang saya ingin saya lakukan selama tidak merugikan orang lain, dan sebisa mungkin gak dengarin pendapat  buruk yang menjatuhkan diri kita dari orang lain, hal tersebut membuat saya gak mudah galau, dan selalu bersyukur, :)

Di paragraf yang terakhir ini, saya hanya mau ucapkan terima kasih banyak untuk Jakarta dan orang-orang sekitar saya selama di sana. Sungguh tak mungkin terlupakan. Terima kasih untuk setiap tawa, tangisan bahagia, haru, dan pelajaran yang saya peroleh untuk mengahadpi babak-babak baru dalam drama-drama selanjutnya yang pasti harus saya hadapi dan tak boleh dihindari.




(Sumber: http://zahirahmad.wordpress.com/2010/10/03/jakarta-dan-urbanisasi/) 











 Jakarta, saya pasti kembali lagi.
:"""""")

Salam.
Debora Truly, yang akan selalu rindu Jakarta ^^

Tuesday, 19 August 2014

Hello Again

Hai, hari ini tanggal 19 Agustus 2014, dua hari lalu Indonesia baru saja berulang tahun yang ke 69 (merdeka!) dan sudah satu tahun lebih sejak terakhir kali saya nulis di blog ini. Kalau ibarat rumah, mungkin blog saya ini udah dikunjungin sama Tukul untuk masuk ke acaranya yang Mr. Tukul Jalan-jalan (jangan tanya kenapa saya bisa tahu acara tersebut) atau mungkin didatangin sama orang-orang penasaran jam 12 malam yang nyalinya bosen dan minta diuji. 

Anyway, satu tahun lebih ga nulis di sini tentu banyak cerita dan pengalaman yang saya alami (cie gitu), tapi saya sok sibuk dan sok ga sempat untuk menuliskannya di sini. Jadi setelah hari ini sekitar 2-3 bulan setelah saya lulus saya berjanji untuk rajin nulis di sini.
Mungkin yang pernah baca tulisan saya sebelumnya bingung kenapa saya ga lulus-lulus setelah tugas akhir yang penuh dengan drama.  Puji Tuhan Semesta Alam, saya diberi kesempatan untuk langsung melanjutkan kuliah ke jenjang yg lebih tinggi yaitu d4 yang berarti saya kembali bergelut dengan skripsi dan sahabat-sahabatnya dan tanggal 26 nanti akan maju untuk mempertanggungjawabkannya. Jadi yang membaca ini, saya harap doanya (sangat berharap-maksa).

Well, dua sampai tiga bulan lagi mungkin saya sudah duduk manis di kursi kantor saya di Batam yang berarti saya memiliki waktu luang yang lebih banyak sehingga punya waktu untuk berpikir dan menulis. Selain itu, suara dari dalam diri sudah terlalu kuat untuk menyuruh saya menulis apapun meskipun kontennya tidak kelas dan hanya beberapa kalimat. Jadi mungkin blog ini akan lebih banyak isinya dua atau tiga bulan lagi. Saya akan mencoba memenuhinya.

Baiklah.
Semoga kebahagiaan senantiasa melingkupi kita.
Salam.