Berkesempatan
untuk melanjutkan kuliah di Jakarta tentu tak saya sia-siakan untuk sekaligus
melihat lebih dekat banyak hal yang awalnya hanya dapat saya nikmati di
televisi, buku, maupun internet. Salah satunya adalah menyaksikan langsung
acara kegemaran saya Stand Up Comedy.
Di salah satu acara tersebutlah saya pertama kali bertemu dengan Pandji.
Pandji
Pragiwaksono, yang awalnya saya ketahui sebagai pembawa acara program televisi
yang suka memberi pertanyaan di jalanan dan menghadiakan uang untuk setiap
jawaban yang benar, menjadi sosok yang saya kagumi dan ikuti karya-karyanya
semenjak saya follow akun twitter-nya
lima tahun yang lalu. Dari semua karya-karya-nya, tulisan dan lawakannya lah
yang paling saya minati. Saya mudah sekali terpengaruh melalui tulisan yang
menarik dan obrolan yang hangat. Maafkan, tapi setiap melihat Pandji melakukan Stand Up saya seperti sedang mendengar
orang ngobrol tapi tanpa ada yang
menimpali.
Ini adalah foto saya pertama kali
dengan Pandji:
![]() |
| Mas Pandji masih gemuk :'> |
Saat
itu sudah larut sekali, pukul 12 malam lebih, Pandji menjadi pembawa acara di
Kontes Stand Up Comedy Kompas TV Season 3. Ketika acara usai, saya
menunggu di luar berharap Pandji belum pulang dan berkenan meluangkan sedikit
waktunya untuk berfoto dengan saya. Malam itu saya beruntung, dia belum pulang
dan dengan sangat ramah mengabulkan permintaan saya. Tak ada sedikit pun gesture kelelahan waktu itu, padahal
acara yang dipandunya cukup lama, dan dia bersama Ge-partner MC-nya pada saat itu-tak henti-hentinya turut menghibur
penonton yang datang saat acara berlangsung. Ketika selesai berfoto bahkan
beliau mengucapkan terima kasih. Wuuuh, sebentar namun betapa berkesannya
malam itu :”)
Ini
adalah foto kedua saya dengan Pandji:
| Mas Pandji mengecil :o |
PP
Stand Up Vol. 3. Acara yang memang ingin sekali saya hadiri, karena mendengar
kabar bahwa acara tesebut adalah stand up
yang cukup ‘berbahaya’. Waktu itu tanggal 1 April 2014
di Graha Bakti Budaya. Sebelum berangkat, saya sempatkan melihat timeline Twitter dan mengetahui Pandji
juga turut hadir. Saya langsung memasukkan buku karya Pandji yang belum
ditandatanganinya ke dalam tas. Ketika acara usai, banyak orang yang berkumpul
di lobi bawah gedung tersebut. Banyak sekali wajah-wajah yang familiar, karena
memang acara stand up milik
Provocative Proactive cukup ditunggu-tunggu. Akhirnya saya dapat menemui Pandji
di dekat pintu keluar, bersama Queen Gamila, dan langsung meminta beliau
menandatangani buku saya. Pandji menanyakan nama saya, lalu menulis nama saya
di buku. Sambil menulis beliau sempat bertanya apa arti dari nama saya, karena
sama dengan nama bus jurusan Lebak Bulus-Depok :”””D
| Sudah dilegalisir |
Setelah selesai, Pandji lagi-lagi tak lupa mengucapkan terima kasih. Saya sangat merasa dihargai.
Dari setiap pertemuan saya dengan Pandji, ucapannya yang mengatakan bahwa beliau sangat menghargai penikmat karyanya betul adanya. Dia tak segan-segan mengucapkan langsung terima kasih, walau saya hanya sekadar meminta foto. Melalui tulisan ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih pada Pandji. Terima kasih untuk setiap karya, tulisan, ucapan, video, bahkan tweets dari mas Pandji. Tak semua saya setuju, tapi setidaknya mengajak saya untuk lebih berpikir, melihat dari sisi lain dan mengenal sebelum membenci. Terima kasih, mas Pandji.
Saya mem-favorite-kan tweet Mas Pandji ini dua tahun lalu karena saya pun ingin demikian, dan saya capture baru-baru ini:
Semoga tahun ini dapat terwujud, atau tahun-tahun ke depan.
Selamat ulang tahun, mas Pandji, usia semakin bertambah, waktu pun menipis, tetaplah berbahagia.
Salam.
Debora Truly
-bukan pengusaha bus-
