Thursday, 23 May 2013

Berlebihankah?

Waktu kecil paling kesel kalo Bapak pasang siaran sepakbola pas ada kartun atau kuis di tv. Pasti langsung marah-marah minta diganti ke acara kesukaanku. Entah, mungkin waktu itu Bapak saya mengutuk dalam hati kalau saya bakal tergila-gila dengan acara tersebut saat saya marah-marah padanya, yang jelas saya kayak udah terserang virus olahraga yang sudah menjadi industri besar tersebut.
Hampir tiap akhir Minggu, minimal satu pertandingan saya saksikan di televisi. Klub kesukaan saya Manchester United-klub sejuta umat-yang haters-nya banyak- :D dan pemain favorit saya si Cristiano Ronaldo-ambisius dari Portugal.
Tapi, nggak ada yang lebih menyehatkan jantung saya selain pertandingan Timnas Indonesia. Apapun pertandingannya. Rasanya seperti harga diri saya yang dipertaruhkan. Sejauh ini, prestasi olahraga Indonesia memang tidak bisa dibilang baik. Negeri ini rasanya haus akan prestasi olahraga. Ditengah-tengah carut marutnya negeri ini, rasa-rasanya olahraga seperti punya cara sendiri untuk mempersatukan semangat bangsa menjadi satu, meski prestasi masih enggan mengukirkan diri atas nama bangsa ini.
Suatu kali saya pernah menonton langsung pertandingan Timnas di lapangan kebanggaan bangsa-GBK. Sekujur badan merinding. Belum pernah saya menyanyikan lagu Indonesia Raya se-terharu itu. Saya tidak kenal siapa di sebelah kanan, atas, maupun bawah saya. Tapi kami sama-sama mendukung Indonesia saat itu, sama-sama bernyanyi untuk bangsa ini. Malam itu salah satu malam membahagiakan dalam hidup saya,, Indonesia menang pada pertandingan tersebut dan itu adalah pertama kalinya saya menonton langsung Timnas. Euforianya bahkan sampai berhari-hari.
Namun sejak malam itu, prestasi Indonesia sepertinya semakin menurun, jarang sekali terdengar Timnas mengukir kemenangan atas lawan-lawannya. Rasanya sedih. Salah satu semangat pemersatu pun carut marut. Saya tidak tahu ada apa dengan PSSI. Saya tidak tahu siapa yang salah. Pejabat kah, Tim pelatih kah, pemain kah? Entahlah. Menpora pun baru diganti oleh Bos Bangsa ini dengan Roy Suryo, bukan pesimis, tapi background beliau yang bukan dari bidang olahraga dan masa kerja yang sedikit sepertinya kurang cukup untuk dapat langsung merubah prestasi timnas.
Tahun depan, saat bangsa ini akan mendapatkan Presiden yang baru, saya hanya berharap semoga bos yang akan memimpin bangsa ini dapat memperhatikan prestasi timnas. Mereka berjuang untuk bangsa ini dengan cara yang berbeda. Mempertaruhkan hidupnya untuk kemartaban bangsa ini. Semoga harapan saya-yang bukan siapa-siapa ini- dapat terwujud. Melihat kapten Timnas dapat mengangkat suatu piala kejuaraan bukanlah sesuatu yang berlebihan dan musahil. Amin.

No comments:

Post a Comment